Rantai Makanan (Teori Lingkungan)
***
Tiap
spesies tumbuhan dan binatang, tak peduli seberapa besar atau kecilnya, bergantung
pada kehidupan tumbuhan dan binatang lainnya untuk bertahan hidup. Hal ini dapat
berupa lebah yang mendapatkan polen dari bunga, fotosintesis tumbuhan, rusa
yang memakan daun, atau singa yang memakan rusa tadi.
Rantai makanan menunjukkan bagaimana
energi ditransfer dari satu organisme ke organisme lainnya melalui makanan.
Menjadi penting untuk kita mengerti bagaimana rantai makanan bekerja agar kita
tahu organisme apa yang penting dalam rantai makanan tersebut dan bagaimana keseimbangan
ekologi. [1]
Fotosintesis hanyalah awal mula dari
suatu rantai makanan. Akan ada banyak tipe binatang yang akan memakan hasil
dari fotosintesis tersebut. Sebagai contoh ada rusa yang memakan daun, cacing
memakan rumput, dan kelinci yang memakan wortel. Ketika hewan-hewan ini memakan
hasil produk fotosintesis tersebut, energi dari makanan itu dan senyawa
organiknya akan tertransfer dari tanaman ke binatang yang memakannya.
Binatang ini pada gilirannya akan
dimakan juga oleh binatang lain, dan transfer energi serta senyawa organiknya
pun terjadi lagi. Jadi, sampai berapa level hal ini terjadi?
Sebuah rantai makanan
mendeskripsikan bagaimana energi dan nutrisi berpindah melalui sebuah
ekosistem. Pada level dasar ada tumbuhan yang memproduksi energi, lalu energi
tersebut berpindah ke organisme yang lebih tinggi tingkatannya seperti
herbivora. Setelah itu ketika karnivora memakan herbivora tadi, energi tertransfer
dari satu ke yang lainnya lagi.
Dalam rantai makanan, energi
tertransfer dari satu organisme ke organisme lainnya dalam bentuk makanan. Ada
produsen utama, konsumen pertama, konsumen kedua, dan dekomposer—yang ke semua
itu adalah bagian dari rantai makanan. Kita sebagai manusia karena kebiasaan
makannya, kita ada pada dua tempat rantai makanan—laut dan darat.
Tumbuhan yang melakukan fotosintesis
menyuplai produk pertama dalam rantai makanan kepada kita. Tidak hanya itu, mereka
juga merupakan sumber oksigen, makanan yang kita makan, baju kita, sampai furniture kita, di antara benda-benda
lainnya. Tumbuhan juga mengurangi gas rumah kaca dari udara serta menyediakan
habitat bagi banyak binatang.
Oleh karena itu, kita harus mengerti
ekologi lingkungan dengan menghargai tumbuhan. Berapa jumlah populasi mereka
dibandingkan dengan makhluk hidup lain dalam suatu lingkungan.
Dalam tipikal rumput-rumputan,
sebagai contoh, jumlah tumbuhan ini sudah melebihi semua level lainnya dalam
piramida makanan walau digabungkan. Bagaimanapun juga di hutan, organisme
lainnya bersaing untuk mendapatkan tempat dengan tumbuhan. Tetapi keseimbangan
tetap terjaga dalam ekosistem.
Tapi mungkin ada hubungan special yang
berevolusi dalam komunitas yang mana satu jenis spesies tertentu pasti tumbuh
jika diasosiasikan dengan satu jenis spesies tertentu lainnya, walaupun ia
masih bergantung dengan yang lainnya.
***
Indonesia merupakan negara kepulauan
yang memiliki wilayah laut lebih besar daripada luas daratannya. Dalam suatu
perairan terdapat berbagai macam organisme yang sangat kompleks baik yang
berukuran besar maupun yang berukuran kecil (mikroskopik). Adapun organisme
yang berukuran kecil ini sangat beraneka ragam. Organisme yang tidak bergerak
aktif, melayang dalam perairan dan gerakannya cenderung bervariasi sesuai dengan
adaptasi terhadap lingkungan disebut plankton. Plankton adalah mikroorganisme
yang ditemui hidup di perairan baik di sungai, waduk, payau dan laut yang dari
segi jumlahnya dan jenis sangat banyak. Plankton merupakan salah satu komponen
utama dalam sistem mata rantai (food chain) dan jaring makanan (food web) yang
dijadikan pakan bagi sejumlah konsumen yang ada di perairan. Mikro organisme
(plankton) ini ada yang dapat bergerak aktif seperti hewan disebut plankton
hewani (Zooplankton) dan ada juga yang dapat melakukan asimilasi (fotosintesis)
seperti halnya tumbuhan di darat yang disebut plankton nabati (phytoplankton).
(Nontji, 2008)
Fitoplankton didefinisikan sebagai
organisme-tumbuhan mikroskopik yang hidup melayang, mengapung di dalam air dan
memiliki kemampuan gerak yang terbatas. Sedangkan Zooplankton bersifat
heterotrofik, maksudnya tak dapat memproduksi sendiri bahan organik dari bahan
inorganik. Oleh karena itu, untuk kelangsungan hidupnya, ia sangat bergantung
pada bahan organik dari fitoplankton yang menjadi makanannya. Jadi, zooplankton
lebih berfungsi sebagai konsumen (consumer) bahan organik. (Hutabarat, S. dan
S.M, Evans, 1985) [2]
***
Setiap mahluk hidup memiliki
kedudukan tersendiri dalam urutan rantai makanan. Foraminifera sebagai salah
satu komponen tropik ekosistem bahari memiliki peran yang cukup rumit, karena
cara hidup dan tingkah lakunya yang unik. [3] Salah satu keunikannya adalah
perangkat pencernaannya yang sederhana yaitu secara ekstraseluler. Foraminifera
mampu hidup sebagai mikroherbivora, mikrokarnivora atau omnivora. Selain sebagai
hewan pemangsa, foraminifera juga merupakan mangsa bagi beberapa jenis
organisme lain seperti teripang, bulu babi, dan moluska. Lebih jauh lagi
beberapa peneliti telah berhasil menemukan beberapa jenis organisme parasit
pada foraminifera. Kedudukan foraminifera sebagai salah satu elemen rantai
makanan dalam ekosistem bahari disusun dalam suatu diagram (Gambar 1) oleh
lipps & Valentine (HAQ & BOERSMA 1984). Setiap komponen yang terdapat
dalam rantai ini memiliki ketergantungan yang sangat besar terhadap komponen
yang lain. Dengan demikian apabila terjadi suatu perubahan pada salah satu dari
komponen tersebut maka akan menimbulkan dampak yang cukup berarti terhadap
sistem secara keseluruhan.
Dalam memenuhi kebutuhannya akan
nutrisi, foraminifera memilih beberapa jenis algae bersel tunggal seperti
dinoflagellata dan diatom sebagai makanannya. Selain itu jenis-jenis diantara
mereka sendiripun banyak dimanfaatkan sebagai mangsa, terutama jenis-jenis yang
bercangkang gampingan. Dari hasil beberapa penelitian diketahui bahwa sebagian
besar foraminifera yang bercangkang gampingan mati karena dimangsa. Jenis
makanan lain yang disukai oleh foraminifera adalah jenis-jenis krustasea kecil
seperti Copepoda. Haliphysema tumanowiczii BOWERBANK adalah salah satu jenis
foraminifera pemakan bangkai yang telah ditemukan oleh Hedley (MURRAY 1973).
Walaupun bangkai diatom, krustasea dan serpihan-serpihan algae disukai oleh
jenis ini, namun diatom hidup merupakan makanan utamanya. Beberapa peneliti
menduga bahwa foraminifera yang tidak selektif dalam memilih material pembangun
cangkangnya, merupakan foraminifera yang tidak selektif pula dalam memilih
jenis makanannya. Makanan foraminifera tergantung pada mintakat hidupnya
(MURRAY 1973). Foraminifera yang hidup pada mintakat fotik memilih algae bersel
tunggal sebagai makanannya, sedangkan foraminifera yang hidup di bawah mintakat
fotik mendapat makanan dari pemangsaan, sisi-sisa organisme lain atau bakteri.
Foraminifera menangkap makanannya dengan menggunakan kaki semu. Pada jenis-jenis
foraminifera yang memiliki mulut besar, makanan ditarik dengan menggunakan kaki
semu kemudian langsung dimasukkan ke dalam mulut. Pada jenis-jenis yang
memiliki mulut kecil seperti Elphidium crispum LINNE, makanan ditarik oleh kaki
semu, kemudian diselubungi oleh substansi penempel (adhesive) yang dihasilkan
oleh vakuola yang terdapat di dalam kaki-kaki semunya. Zat-zat makanan dihisap
dan diangkut oleh gerakan bergelombang kaki semu menuju endoplasma (HAYNESS
1981). Jaring-jaring kaki semu yang dapat bergerak bebas merupakan penjaring
makanan yang sangat efektif untuk menangkap makanan dalam bentuk suspensi
(Sheenan & Banner dalam MURRAY 1973). Kaki semu pada Astrorhiza limicola
SANDAHL dilaporkan oleh Buchanan & Hedley memiliki dua macam kondisi fisiologis
(MURRAY 1973). Pada kondisi tertentu kaki semu ini tidak melekat pada
partikelpartikel yang dilewatinya, tetapi pada kondisi lain akan menempel pada
setiap objek yang disentuhnya. Kondisi terakhir merupakan keadaan yang biasa
terjadi pada saat foraminifera makan. Namun demikian belum pernah ada
penelitian yang menunjukkan bahwa foraminifera membunuh mangsanya dengan
menggunakan racun. Tingkah laku foraminifera sebagai organisme karnivora telah
diteliti oleh Christiansen (MURRAY (1973). Jenis yang diamati adalah
Spiculosiphon radiata CHRISTIANSEN yang masih muda. Mula-mula jenis ini
mendekati foraminifera kecil (Nonion)y kemudian melekatkan diri pada cangkang
mangsanya selama 22 menit. lima hari kemudian dilakukan pemeriksaan dengan
pewarnaan, ternyata cangkang Nonion tidak mengandung protoplasma lagi. Peneliti
lain telah mengamati tingkah laku foraminifera pada saat memangsa beberapa
jenis krustasea seperti Cumaneans, Carpelids dan Artemia serta binatang laut
kecil. Pada saat foraminifera berhasil menangkap mangsanya, hewan-hewan yang
tertangkap akan meronta dan mencoba melepaskan diri, tetapi gagal dan akhirnya
mereka diam karena kelelahan.
Jumlah pemangsa foraminifera sangat
banyak. Hampir semua jenis organisme invertebrata merupakan pemangsa foraminifera.
Fragmen-fragmen cangkang foraminifera banyak ditemukan pada saluran pencernaan
hewan bentonik, tetapi belum cukup bukti untuk menyebutkan apakah foraminifera
tersebut sengaja dimakan atau tidak. Predator atau parasit yang akan mengambil
protoplasma foraminifera biasanya akan membuat lubang pada cangkang
foraminifera. Lubang-lubang ini dibuat karena sulit bagi organisme predator
atau parasit untuk masuk melalui mulut foraminifera, karena mulut foraminifera
berstruktur rumit. Gastropoda, hewan-hewan karang serta nematoda merupakan
jenis-jenis organisme yang sering ditemukan sebagai predator foraminifera,
terutama di perairan tropis yang dangkal. Banyaknya jumlah predator pada
foraminifera merupakan penyebab utama berkurangnya populasi foraminifera pada
suatu perairan. Saidova berhasil mendapatkan korelasi negatip antara
foraminifera dan moluska di Teluk Narrangansett, Massachusetts (BOLTOVSKOY
& WRIGHT 1959). Berdasarkan penelitiannya tersebut Said menduga bahwa
menurunnya populasi foraminifera adalah akibat pemangsaan oleh moluska yang
mencari makanan di dasar perairan. Hal yang sama juga di laporkan oleh
Christiansen yang menyebutkan bahwa salah satu penyebab rendahnya populasi
foraminifera di Oslo Fjord adalah banyaknya organisme pemangsa foraminifera
seperti moluska, poly chaeta dan krustasea (MURRAY 1973).
Pemangsaan pada foraminifera
bentonik di perairan dalam telah diteliti oleh Saidova (BOLTOVSKOY & WRIGHT
(1950). Dia menemukan sejumlah besar foraminifera planktonik dan bentonik dalam
saluran pencernaan berbagai jenis echinoid dan holothurian yang hidup pada
kedalaman 3000 dan 9300 meter. Namun demikian dia tidak menemukan foraminifera
planktonik pada sedimen di daerah tersebut. Cangkang-cangkang foraminifera
terawetkan dengan baik di dalam tubuh pemangsa tersebut. Cangkang foraminifera
yang terdapat di dalam saluran pencernaan awal, masih mengandung protoplasma.
Pada saat cangkang-cangkang itu sampai pada saluran pencernaan akhir,
protoplasma sudah tidak ada lagi di dalam cangkang tersebut. Dari hasil
pengamatan ini Saidova berpendapat bahwa cairan gastrik pada saluran pencernaan
hewan pemangsa dapat menghancurkan protoplasma foraminifera, tetapi tidak dapat
menghancurkan cangkang. Dari penelitiannya ini, dia menyimpulkan bahwa
foraminifera bentonik merupakan komponen makanan yang penting bagi banyak
organisme perairan dalam.
DAFTAR PUSTAKA
[1] WWF. 2020. FOOD CHAINS AND FOOD WEBS, diakses dari https://wwf.panda.org/knowledge_hub/teacher_resources/webfieldtrips/food_chains/,
pada 16 Oktober 2020.
Comments
Post a Comment