Harapan, Doa, dan Kepercayaan
Harapan atau kata lainnya yaitu asa adalah bentuk dasar dari kepercayaan akan sesuatu yang akan didapatkan atau suatu kejadian akan berbuah kebaikan pada waktunya. Sedangkan cita-cita adalah suatu kehendak yang selalu ada dalam pikiran dengan maksud untuk diwujudkan. Persamaan harapan dengan cita-cita yaitu keduanya sama-sama memiliki orientasi akan suatu hal yang akan terwujud di masa yang akan datang. Contoh harapan diantaranya, seseorang melakukan ibadah menurut kepercayaannya masing-masing dengan harapan mendapat tempat yang terbaik di kehidupan yang akan datang, seorang mahasiswa yang tekun belajar memiliki harapan agar kehidupannya di masa depan tidak sengsara, atau seseorang yang percaya akan karma berbuat baik kepada orang lain dengan harapan kehidupannya kelak diganjar dengan karma yang baik pula.
Doa secara harfiah berarti permohonan atau permintaan. Doa juga merupakan kebudayaan yang melekat pada umat manusia karena secara moral hal ini dibutuhkan oleh manusia, terlepas dari latar belakang manusia yang bersangkutan. Namun dalam banyak budaya keagamaan di dunia, doa ini salah satu budaya inti dalam hidup umat beragama. Kemudian doa itu juga memiliki macam, diantara tujuan dipanjatkannya doa misalnya untuk meminta kebaikan terhadap diri sendiri kemudian ada juga yang untuk orang lain. Contohnya dalam agama islam, doa untuk kebaikan diri sendiri seperti agar dijauhkan dari godaan setan yang terkutuk. Doa untuk kebaikan diri sendiri kiranya dilakukan lebih dahulu sebelum melakukannya untuk orang lain. Kemudian doa untuk kebaikan orang lain dalam agama islam misalnya seperti agar orang tersebut diberi kelimpahan rezeki dalam hidupnya.
Kepercayaan adalah anggapan akan sesuatu yang benar atau nyata. Kepercayaan ini dapat berupa yakin adanya tuhan, makhluk halus, bumi itu bulat, atau planet-planet dalam sistem tata surya itu mengelilingi matahari dan bukan sebaliknya. Kata kepercayaan umumnya digunakan dalam konteks keagamaan. Teori-teori kebenaran ada empat macam, diantaranya:
- Teori Korespondensi, teori kebenaran yang didasarkan pada fakta objektif sebagai dasar kebenarannya.
- Teori Koherensi, teori yang melahirkan sebuah aksioma atau postulat yang pada umumnya berwujud sebagai kebenaran umum(general truth) sebagai akibat dari pembuktian teori korespondensi yang dilakukan secara berulang-ulang.
- Teori Pragmatis, teori yang meletakkan dasar kebenarannya pada manfaat praktis dalam memecahkan permasalahan hidup.
- Teori Performatif, teori kebenaran performatif muncul dari konsepsi J. L. Austin yang membedakan antara ujaran konstatif dan ujaran performatif. Menurut tokoh filsafat analitika Bahasa dari Inggris ini, pengujian kebenaran (truth-evaluable) secara faktual seperti yang dapat diterapkan dalam teori korespondensi hanya bisa diterapkan pada ujaran konstatif. Ucapan konstatif adalah ucapan yang yang mengandung sesuatu yang konstatif dalam ujaran itu sehingga ia memiliki konsekuensi untuk dibuktikan kebenarannya.
- Teori Konsensus, teori yang didasarkan pada perkembangan ilmu pengetahuan yang menggeser paradigma lama ke paradigma baru dan pergeseran ini ditentukan oleh penerimaan masyarakat (social acceptance) terhadap sebuah paradigma dan konsepsi kebenaran ilmiah.
Manusia juga senantiasa meningkatkan kepercayaannya kepada tuhan. Diantara cara-cara manusia meningkatkan kepercayaannya kepada tuhan dapat dengan menuntut ilmu, menjalankan perbuatan-perbuatan yang diperintahkan oleh tuhannya, atau juga melakukan perjalanan untuk mengambil pelajaran dari dunia sekitar yang manusia tersebut kunjungi.
Comments
Post a Comment